lama sekali aku menimbang ...
memahami ...
berbilang waktu...
mungkin aku masih belum memahamimu
sabar, kau tetap sabar
dan, ketika keterbatasan yang kujanjikan
senyum, kau hanya tersenyum
yakin,
bumi,
air,
pepohonan, hanya Milik Allah
dan kita khalifah
aku menunggumu
kutatap lama, indahnya bintang di langit
aku masih belum bisa memahamimu,
kenapa, aku menunggu jawaban
tapi, tetap aku belum (bisa) memahamimu
maafkan, maafkan, ribuan tak cukup
aku yang belum memahami bahasamu,
aku yang dhaif ini ...
dan sederet khilaf ini
Ya Rahman,
ajari aku bahasa kasih
Ya Rahiim,
ajari aku bahasa cinta
agar aku bisa,
memahamimu ...
seperti nelayan dengan rasi bintang
seperti pengembara dengan mata angin,
tapi,
ribuan kali, maafkan aku belum (bisa) memahamimu ...
semoga fajar
esok datang menjelang,
karena aku tengah berlari
untuk menyingsingnya
untuk ribuan kali
memahamimu
Medan, 11:43 PM 7/20/2009
(untuk yang telah berusaha memberikan terbaik)
Tampilkan postingan dengan label puisi cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi cinta. Tampilkan semua postingan
Selasa, 09 Februari 2010
Aku ingin (duduk) disampingmu
Aku ingin duduk di sampingmu
Sejenak ...
Tak Lama ; ingin menepi tapi entah tak tahu
Aku ingin duduk di sampingmu
Bukan hendak membuat riak ...
Sungguh,
Sudikah ...
Aku ingin duduk di sampingmu
menatap rembulan, bercanda tentang kebahagiaan
menikmati lara ...
Aku ingin duduk disampingmu
di sudut At Taqwun, menghampar sajadah
memasrahkan jiwa, dengan sisa tenaga
Aku ingin duduk disampingmu
menyaksiksan sunset,
menghirup semerbak daun teh
meletakkan batu-batu di pundak sementara
Aku ingin sujud di depanmu
dan kau jadi makmumku,
menghisab kehidupan,
berhenti berlari, berhenti mencari
Medan, 6:39 PM 6/25/2009
Sejenak ...
Tak Lama ; ingin menepi tapi entah tak tahu
Aku ingin duduk di sampingmu
Bukan hendak membuat riak ...
Sungguh,
Sudikah ...
Aku ingin duduk di sampingmu
menatap rembulan, bercanda tentang kebahagiaan
menikmati lara ...
Aku ingin duduk disampingmu
di sudut At Taqwun, menghampar sajadah
memasrahkan jiwa, dengan sisa tenaga
Aku ingin duduk disampingmu
menyaksiksan sunset,
menghirup semerbak daun teh
meletakkan batu-batu di pundak sementara
Aku ingin sujud di depanmu
dan kau jadi makmumku,
menghisab kehidupan,
berhenti berlari, berhenti mencari
Medan, 6:39 PM 6/25/2009
Label:
at taqwun,
berharap,
cinta,
duduk,
puisi cinta,
puncak,
rindu masjid
3 Rindu
Rindu I : Muhammad, Athar dan Pertiwi
Duhai Rokib
sang pencatat kebaikan
aku ingin kau membaca hatiku
aku rindu,
rindu Muhammad kekasih Umat
biarkan aku trance
dalam masa lampau
aku tengah muak dengan kekinian
sekejap saja
biarkan aku menyelamatkan diriku
dari fitnah Raja yang Bingung, Jendral Buaya, Godzilla atau
siapapun dia yang menungganginya,
lemparkan aku sekejap untuk bertemu Muhammad,
aku ingin bertanya banyak tentang Indonesia
tentang bangkit dari hukum rimba kejahiliyahan
kalaulah tak pantas, izinkan
aku bertemu Mohammad Athar yang tak kenal letih
mengingatkan penguasa
kalau juga tak pantas cukuplah
bertemu Baharuddin Lopa atau Hoegoeng
setidaknya aku bisa menangis sejenak
menangisi Indonesia bersama mereka
sejenak saja,
bahkan Muhammad juga menangis
Oh Gusti tapi Engkau tak pernah
menulis dalam firman-MU segala
sesuatu yang mengecilkan hati manusia
cukup Engkau membiarkan
kami menangis
Oh Pertiwi, maafkan aku ...
Kalaulah ini semua kemunafikan
biarlah Atid mencatatnya.
Rindu II : Ribuan Rindu
"Suami Pengganggu" itu julukanmu padaku
dan kali itu aku hanya tersenyum
ketika bibir mungilmu terus mengulang-ulang
kata-kata sama
cinta bagimu lebih dari sekadar cincin pengikat
maka kau ikhlaskan ketika jemarimu kini polos
cinta bagimu lebih dari seorang Ustadz
maka kau tak letih membangunkanku
untuk bermunajat di sepertiga malam,
: "jangan tunggu lima menit", katamu
cinta bagimu lebih dari soal nafkah
apalagi kuliah, aih kali ini aku
teringat Sulaiman yang mengakui
hikmah seekor ikan yang
mengembalikan kekuasaan
Ar Razzaq di hatinya
Rabb, akulah Sulaiman itu
kutitip ia dalam lindungan-Mu
dalam ribuan rindu, Ribuan
Rindu III : Rumah-MU
aku rindu mengetuk-ngetuk pintu-MU
karena rahmat-Mu tujuanku
aku rindu menangis di rumah-MU
karena Engkau membiarkanku
semoga cinta-MU bertambah padaku
oh Tuhan aku rindu Hasanain, rindu Amaliyah ...
rindu pintu rumah-MU yang selalu terbuka ...
aku rindu menangis bersama-MU
karena kurindu syahdu itu,
aku rindu terisak di sepertiga malam-MU
karena tak pernah Engkau
membiarkan pecinta-MU menjadi pungguk
merindukan bulan.
ah memang pantas Muhammad selalu merindukan-MU
karena rindu-MU tak pernah terlarang
Batam, 3:23 PM 22-11-2009
(semasa dilanda rindu sendirian)
Duhai Rokib
sang pencatat kebaikan
aku ingin kau membaca hatiku
aku rindu,
rindu Muhammad kekasih Umat
biarkan aku trance
dalam masa lampau
aku tengah muak dengan kekinian
sekejap saja
biarkan aku menyelamatkan diriku
dari fitnah Raja yang Bingung, Jendral Buaya, Godzilla atau
siapapun dia yang menungganginya,
lemparkan aku sekejap untuk bertemu Muhammad,
aku ingin bertanya banyak tentang Indonesia
tentang bangkit dari hukum rimba kejahiliyahan
kalaulah tak pantas, izinkan
aku bertemu Mohammad Athar yang tak kenal letih
mengingatkan penguasa
kalau juga tak pantas cukuplah
bertemu Baharuddin Lopa atau Hoegoeng
setidaknya aku bisa menangis sejenak
menangisi Indonesia bersama mereka
sejenak saja,
bahkan Muhammad juga menangis
Oh Gusti tapi Engkau tak pernah
menulis dalam firman-MU segala
sesuatu yang mengecilkan hati manusia
cukup Engkau membiarkan
kami menangis
Oh Pertiwi, maafkan aku ...
Kalaulah ini semua kemunafikan
biarlah Atid mencatatnya.
Rindu II : Ribuan Rindu
"Suami Pengganggu" itu julukanmu padaku
dan kali itu aku hanya tersenyum
ketika bibir mungilmu terus mengulang-ulang
kata-kata sama
cinta bagimu lebih dari sekadar cincin pengikat
maka kau ikhlaskan ketika jemarimu kini polos
cinta bagimu lebih dari seorang Ustadz
maka kau tak letih membangunkanku
untuk bermunajat di sepertiga malam,
: "jangan tunggu lima menit", katamu
cinta bagimu lebih dari soal nafkah
apalagi kuliah, aih kali ini aku
teringat Sulaiman yang mengakui
hikmah seekor ikan yang
mengembalikan kekuasaan
Ar Razzaq di hatinya
Rabb, akulah Sulaiman itu
kutitip ia dalam lindungan-Mu
dalam ribuan rindu, Ribuan
Rindu III : Rumah-MU
aku rindu mengetuk-ngetuk pintu-MU
karena rahmat-Mu tujuanku
aku rindu menangis di rumah-MU
karena Engkau membiarkanku
semoga cinta-MU bertambah padaku
oh Tuhan aku rindu Hasanain, rindu Amaliyah ...
rindu pintu rumah-MU yang selalu terbuka ...
aku rindu menangis bersama-MU
karena kurindu syahdu itu,
aku rindu terisak di sepertiga malam-MU
karena tak pernah Engkau
membiarkan pecinta-MU menjadi pungguk
merindukan bulan.
ah memang pantas Muhammad selalu merindukan-MU
karena rindu-MU tak pernah terlarang
Batam, 3:23 PM 22-11-2009
(semasa dilanda rindu sendirian)
Label:
kpk,
muhammad,
puisi cinta,
rindu masjid,
rindu rasul
Langganan:
Postingan (Atom)